Nikmatnya Seks Dengan Om-Om (Bagian 1)



Enaknya Ngetot ama om - Saya Leni, narasi ini berlangsung saat saya baru masuk SMU, waktu itu umurku baru 16tahun. Saya tinggal dengan ke 2 ortu serta adikku dalam suatu apartment. Ortu beli 2 apartmen yang terletak sama-sama bertemu di lantai yang sama. Saya serta adikku tinggal di satu apartment serta ortu di apartmen satunya lagi. Ayahku punyai seorang kakak angkat yang umurnya tidak jauh di atas ayah. Jalinan keluargaku dengan om itu cukup dekat. om seringkali bertandang ke apartmen bagus untuk kepentingan pekerjaan atau cuma bersilaturahmi. Maklum om dah pisah dari tante, yang sudah menikah lagi dengan seseorang, sedang om masih sendiri semenjak perpisahannya dengan tante. Om ku ganteng, meskipun umurnya sedikit di atas ayahku tetapi justru terlihat semakin muda dari ayahku. Tubuhnya tegap atletis, kemungkinan sebab ia masih rajin lakukan fitness sekali semingu, jogging ampir setiap hari dan renang satu minggu sekali. Tidak seperti ayahku yang sudah gendut serta keliatan tua, maklum deh ayah repot dengan kerjaannya, workaholik lah orang katakan, hingga tidak sempat ngapa2in. waktu untuk keluarga paling weekend, itu juga seringkali dianggu sebab ada pekerjaan yang perlu dilaksanakan ayah. Om seringkali ajak kami jalan2, kalau ayah kharus lakukan kerjanya. Diam2 saya kagum pada om, keliatannya macho sekali deh.

Narasi ini berlangsung saat ortu serta adikku harus keluar kota untuk melihat nenekku yang sedang sakit. Saya tidak turut sebab ini hari om akan tiba untuk ambil pesanannya yang diberikan melalui aya. ayah memberi pesan untuk sampaikan pesanan itu kalau om tiba ke apartment. Tuturnya om akan tiba sore seputar magrib. Saya juga senang sebab dapat berduaan saja ama om tanpa seseorang diapartment yang mengganggu. Sorenya terdengar bel pintu mengeluarkan bunyi. Om mengebel pintu apartmentku sebab ayah dah memberikan tahu kalau mereka keluar kota, tetapi pesanan om dititpkan pada saya. Selekasnya saya buka pintu menyongsong om. "Hai cantik", om tetap menegur saya semacam itu. Senang saya dipuji cantik oleh om. "Kok senang sekali keliatannya". "Iya om, senang dapat berduaan ama om", jawabku terus jelas. "Loh kok senang, kan dah seringkali jalan ma om". "Iya tetapi kan ramaian. duduk om. ini pesenan om yang diberikan ayah buat om". Om duduk di sofa. Memang apartment saya serta adikku cukup komplet perabotannya meskipun serba minimalis. Di ruangan tamu yang merangkap kamar makan ada seperangkat sofa, tv, audio sistem, meja makan serta pantri kering. Dapur dirubah peranan untuk gudang sebab makanan disupply dari apartment ortu. "Om jalan yuk", kataku. "Mo ke mana", bertanya om. "Ke mal yuk". "Mo cari apa?" "Makan ama liat2 saja. di apartment tidak ada makanan. barusan mama pesen agar saya ngajak om cari makan di luar saja". "Emangnya ortu kamu pulangnya kapan. Adikmu mana?" "Adik turut om, pulangnya esok sore kali". "Terus kamu takut sendirian, ingin om temenin". Wah itu yang saya harap dapat berduaan ama om sampai esok. "nanti ya om, saya tuker pakaian dahulu". Selekasnya saya lenyap kekamarku serta ganti pakean. Saya tidak tahu, ternyata om ngintip saat saya tuker pakean. Tetapi ya tidak tejadi apa2. Selanjutnya selekasnya saya keluar apartment nersama om. Dengan manjanya saya memeluk tangan om. Kami bermobil ke mal yang deket dengan apartmentku. Sampai malem saya bener2 have fun bersama-sama om, kami mencari makan, serta sesudah makan om ngajak saya tonton film. Saya ya ok saja, didalem bioskop saya memegangi tangan om terus, perhatianku tidak pada filmnya tetapi pada figur pria macho yang duduk disamping saya. "Tu orang pada melihatin kita, mereka anggap saya om suka yang lagi gaet abg cantik", kata om saat keluar dari bioskop. "Kamu manja sangat sich". "Biarin saja", jawabku. "Mo ke mana lagi nih". "Pulang yuk om". "ayuk". Kami ke arah tempat parkir serta langsung kembali pada apartment. Selekasnya mobil melaju kembali pada apartment, tidak lama sebab apartment dekat sama mal.

Sesampe di apartment saya selekasnya tuker dengan pakean rumah lagi. saya kalau di rumah memang tidak menggunakan bra. Saya cuma menggunakan tanktop ketat sepinggang serta celana pendek yang ketat. ke-2 pentilku terlihat jelas sekali tercetak di tanktopku. Sang om terkesima lihat lekak liku bodiku yang menggugah selera lelaki yang menyaksikannya. "Kamu beneran mo om temenin". "Kalau om tidak keberatan". "Tetapi om tidak bawa serta pakaian tukar". "Kelak saya ambilin celana kolor serta pakaian kaos ayah". Selekasnya saya keluar apartment, buka apartment ortu serta masuk dalam kamar ortu untuk ambil celana kolor serta kaos oblong ayah. "Kegedean kali ya om, ayah kan gendut", kataku sambil menyerahkan pakean itu ke om. "Tidak apa, kan hanya buat bobo". Sang om masuk dalam kamarku, saat keluar kamar cuma menggunakan celana kolor gombrang serta kaos yang agak kebesaran. Keliatannya ia tidak kenakan CD sebab kontolnya terlihat jelas tercetak di celana gombrangnya, kayanya dah ngaceng deh. Kemungkinan ia napsu melihat bodiku. Om duduk di sofa tonton tv. Saya duduk disampingnya. "Len kamu seksi sekali. toket kamu besar ya, tentu cowok kamu senang ya, senang diremes2 ya Len ma cowok kamu". "Ih om tahu saja". "Iya tahu lah Len, om kan lelaki. Lelaki mana yan tidak senang ngeremes toket montok seperti toketmu itu". "Om senang ngeremes ya, terus om ngeremes siapa, kan tidak ada tante". Om hanya tersenyum, "Kamu ingin tidak om remes". "Ih om genit ih". "Kamu senang tonton film bokep ya Len". "Iya om ma cowok Leni". "Dimana nontonnya?" "Di rumah cowok Leni, ia kan seringkali sendirian di tempat tinggalnya, ortunya seringkali pergi dua2nya, tuturnya melakukan bisnis". Terus, diremes deh". "Iya om, setelah tonton film gituan kan napsu ". "Hanya diremes?" "he he", saya cuma ketawa. "Kamu dah seringkali maen ma cowok kamu ya Len". "Tidak seringkali om, hanya ampir setiap malem minggu". "Itu mah seringkali", kata om sekalian merangkul pundakku. Saya merinding saat om menarikku mendekat kebadannya. Ia mencium pipiku. "Om bawa serta film bokep, yang maen orang indonesia ma bule. mo simak?' "Ingin om, umumnya saya tonton kalau tidak bule, ya cina apa jepun". Sang om ambil dvd dari tas yang dibawa tdi serta terpasangnya. Selekasnya filmpun mulai. Ceweknya orang sini, togepasar lah, jembutnya lebat, sedang sang bule krempeng, tetapi kontolnya gede en panjang sekali. Biasalah ritual film bokep sama-sama isep sampai pada akhirnya sang bule naikin tu prempuan serta masuk deh. serenade ah uh diawali.

Sang om ternyata telah di bawah impak napsu berahinya. Ia menatapku dengan pandangan yang seakan2 ingin menelanjangiku. Selekasnya ia mencium bibirku, saya menyambutnya. Lidah kami sama-sama melilit dan dijulurkan lidahnya di dalam mulutku. Selekasnya kuemut lidahnya, selanjutnya tukar saya yang menjulurkan lidahku ke mulutnya. Diapun tidak menyia2kan peluang untuk selekasnya memeras ke-2 toketku giliran. "Len, om dah lama ingin ngeremes toket kamu". Pentilku yang dah mulai mengeras dipilin2 di luar tanktopku. "Dilepaskan ya Len tanktopnya", tuturnya sambil menarik tanktopku keatas. Dvd dimatikannya sebab kami telah tidak memerhatikan sikap ke2 anak manusia yang berbeda tipe sedang berlaga di film itu. Toketku telah telanjang didepannya. Ia selekasnya meremas2 toketku. "Baru 16 dah besar gini Len toket kamu, kencang lagi, om ingin ngasi kesenangan sama kamu, ingin kan", tuturnya perlahan-lahan sekalian mencium toket ku yang montok. ". Saya diam saja, mataku terpejam. Ia mengendus-endus ke-2 toketku yang bau harum sekalian kadang-kadang mengecupkan bibir serta menjilatkan lidahnya. pentil toket kananku dilahap ke mulutnya. Tubuhku sedikit tersentak saat pentil itu digencet perlahan-lahan dengan memakai lidah serta gigi atasnya. "Om…", rintihku, perbuatannya menghidupkan napsuku . Saya jadi benar-benar ingin merasai kesenangan dientot, hingga saya diam saja biarkan ia menelusuri badanku. Disedot-sedotnya pentil toketku dengan cara memiliki irama. Sebelumnya loyo, semakin lama cukup diperkokoh sedotannya. Diperbesar wilayah lahapan bibirnya. Sekarang pentil serta toket sekelilingnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke mulutnya. Kembali lagi dihisapnya wilayah itu dari lemah-lembut jadi cukup kuat. Mimik mukaku terlihat sedikit beralih, seakan meredam satu kesenangan. Ke-2 toketku yang harum itu diciumi serta disedot-sedot dengan cara memiliki irama. Dibenamkannya mukanya antara ke-2 iris gumpalan dada ku. Perlahan ia bergerak mengarah bawah. Digesek-gesekkan mukanya di lekukan badanku yang disebut batas di antara gumpalan toket serta kulit perutku. Kiri serta kanan diciumi serta dijilatinya dengan cara berganti-gantian. Kecupan-kecupan bibir, jilatan-jilatan lidah, serta endusan-endusan hidungnya juga berubah ke perut serta pinggangku. Bibir serta lidahnya telusuri perut seputar pusarku yang putih mulus. Mukanya bergerak semakin ke bawah. Dengan nafsu yang menggebu-gebu ia memeluk pinggulku dengan cara perlahan. Celana pendekku ditariknya kebawah, saya mengusung pantatku agar semakin gampang ia melepas celanaku. Kecupannya juga beralih ke CD tipis yang membungkus pinggulku. Ditelusurinya tatap muka di antara kulit perut serta CD, mengarah pangkal paha. Dijilatnya helaian-helaian rambut jembutku yang keluar dari CDku. "Len, jembut kamu lebat sekali ya, pantes kamu napsunya besar". Lalu diendus serta dijilatnya CD pink itu dibagian belahan bibir nonokku. Saya semakin terengah meredam napsuku, kadang-kadang saya melenguh meredam kesenangan yang kurasakan. Ia melepas semua yang memelekat dibadannya hingga bertelanjang bundar. Saya kaget lihat kontolnya yang demikian besar serta panjang pada kondisi benar-benar tegang. Napsuku bangun lihat kontolnya, muncul keinginanku untuk merasai bagaimana enaknya kalau kontol besar itu menggesek keluar masuk nonokku.