Bercinta Dengan HRD (Bagian 2)
Tangan saya kembali lagi bergerilya ke bawah punggungnya, serta berupaya melepas BH putihnya sampai pada akhirnya terlepas . Dengan mendadak BH itu disentak oleh Grace sendiri sampai terlepas ke lantai serta menarik kaosnya sampai ke atas. Terlihat jelas payudaranya yang putih mulus dengan putingnya yang telah berdiri kencang. "Ndi.. Gunakan kondom ya..?" pinta Grace sekalian meraba- raba sang boy dengan perlahan. "Ya Grace.." jawab saya sekalian buka kondom yang telah saya buat persiapan dari barusan. Grace saat ini telah melepas kaos ketatnya sampai tinggal rok mini serta CD putihnya. "Nantikan Grace, agar saya saja yang kelak melepasnya" hindari saya waktu menyaksikannya akan buka roknya, serta saat ini saya juga buka baju serta celana panjang sampai bugil tinggal CD saja. "Ini rahasia kita berdua lho" bisik Grace sekalian memandang saya tajam serta saya melihat di matanya ada kemauan yang terkubur serta telah lama tidak tersalurkan. "Oke boss.." jawab saya sekalian menciumnya dengan hangat serta diterima dengan gemas oleh Grace, serta tangan saya dengan bebas meremas payudaranya yang kiri serta kanan dengan cara berganti-gantian. Selanjutnya ciuman saya turun ke payudaranya serta melumatnya, mengisap serta menggigit putingnya sampai Grace mendesah. Itu saya kerjakan semasa beberapa waktu. "Sst.. mmh.. terus.. sst.. ke bawah.. sedikit.. sst.." pinta Grace sekalian mendesah tidak karuan sekalian menggerakkan kepala saya mintaku mencium serta menjilat pusarnya. Tangan kanan saya aktif merayap pada pahanya serta makin naik ke bawah sampai masuk ke roknya serta sentuh vaginanya yang terbungkus CD. Saya usap-usap beberapa waktu, selanjutnya tangan saya masukan ke CD putihnya serta mengorek-ngorek lubang vaginanya sampai keluarkan cairan. "Sst.. Ndi.. Aduh.. Geli.. Sst.." rintih Grace sekalian berupaya buka roknya.
Sebab birahinya cukup tinggi, saya membantu untuk buka rok dan CD-nya sampai Grace bugil benar-benar serta terlihat bodynya yang padat serta montok. "Mari Ndi, membuka dong, kok bengong.." pinta Grace tidak sabar sekalian buka CD saya serta keluarlah sang boy dengan tegaknya. Grace sampai takjub lihat sang boy yang cukup bengkok ini. Bagaimana saya tidak bengong lihat cewek cantik putih mulus serta seksi di depan saya dengan ukuran payudara 34B ini. Kami saling bugil saat ini serta saya ambil tempat cukup berjongkok untuk mengisap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus serta tercukur rapi, sedang Grace tiduran di sofa sekalian buka pahanya cukup lebar. "Lho, kok bengong" bertanya Grace sekalian menuntun kepalaku supaya semakin dekat pada vaginanya. "Ehh.." jawabku terkejut tetapi hanya sekejap sebab selanjutnya, vaginanya telah saya jilat, yang sebelumnya baru pada bibir vagina serta makin lama pada lubang vaginanya cari biji kacangnya dan mengisapnya semakin keras, serta bulu-bulu halusnya ikut juga tersapu dengan jilatan serta hisapan saya. "Sst.. Oh.. Yes.. Sst.. Mmh.." rintih Grace panjang sekalian gerakkan pinggulnya ke atas sampai muka saya tenggelam semua dalam permukaan vaginanya. Sesaat tangan kiri saya meremas-remas payudaranya silih bertukar dengan dibantu tangan Grace sendiri. "Sst.. Teru.. Ss.. Ndi.. Sstss.. Mmh.. Sst.. Saya.. Kelu.. Ar.. Arkh.." jerit Grace sebab dengan mendadak menjepit kepala saya dengan ke-2 pahanya. Ternyata Grace sudah alami orgasmenya yang pertama sebab saya ketahui sangat banyak cairannya yang keluar. "Grace, ingin tidak isep sang boy?" bertanya saya hentikan pergerakan mengisap cairan vaginanya sekalian menyodorkan sang boy kepadanya. "Mmh.. Bagaimana ya, Grace tidak pernah tuh" jawabnya ragu sebab kemungkinan Grace memanglah belum sempat mengisap kemaluan cowok. "Gini, kuajarin, Grace lumat saja serta jilat dahulu kepalanya ya" rayu saya sekalian menuntun Grace duduk di sofa serta saya berdiri di hadapannya mengulurkan kontol. Tangan kanannya saya tujukan untuk menggenggam kontol saya serta meminta mengocok perlahan. "Ini ya..?" bertanya Grace sekalian mengocok kontol saya perlahan serta me ngurutnya sampai sang boy makin keras saja.
Ternyata sang Grace cepat belajarnya, serta saya makin menikmatinya. "Bagus.. Saat ini kulum Grace.. Sst.. Ya.. Begitu.." pinta saya lirih sebab dengan cepatnya Grace mengulum kepala kontol saya serta makin lama makin ke sampai kontol saya sampai masuk semua pada mulutnya, serta terkadang tanpa ada diharap, Grace menjilati buah zakar saya tanpa ada jijik serta kembali lagi mengulum serta mengisap kontol saya dengan irama yang terkadang cepat terkadang perlahan. "Sst.. Sudah Grace.. Cukup.." pinta saya sebab tidak kuat meredam hisapan Grace yang makin lama se semakin liar saja. "Mari Ndi, Grace sudah tidak tahan nich.." jawab Grace sekalian memasangkan kondom pada kontol saya. Selanjutnya Grace rebah celentang lagi di sofa dengan masih menggenggam kontolku yang telah menggunakan kondom serta mengarahkannya pada bibir vaginanya. Kontol saya gesek-gesekkan dahulu pada bibir vaginanya untuk pemanasan sampai membuat Grace mendesis kegelian. "Sst.. Geli.. Ndi.. Sudah masukin saja.." "Auwh.. Sst.. Perlahan.. Sst.." jerit Grace sebab kepala kontol saya telah masuk 1/2 pada vaginanya serta pada akhirnya masuk semua dalam vaginanya. "Sst.. Aduh.. Mmh.. Sstss.." rintih Grace demikian kontol saya masuk semua serta menggoyahkan pinggulnya dengan perlahan. Saya memompa kontol saya keluar masuk vaginanya dengan perlahan-lahan serta makin lama semakin cepat. "Sst.. Ndi.. Mmh.. Sst.. Ce.. Petan.. Sst.." pinta Grace pada saya sebab saya perlambat sodokan kontol saya. "Mmh.. Nah.. Begitu.. Ter.. Us.. Ssttss.." "Grace.. En.. Ak.. Tidak.. Sst..?" bertanya saya tersengal-sengal sebab Grace makin aktif memutar-mutar pinggulnya, serta tangan kanannya menggenggam pantat saya serta mendesaknya dengan keras sampai kontol saya makin dalam masuk dalam vaginanya. "Sstss.. Enak.. Ndi.. Sstt.." jawabnya lirih sebab ke-2 tangan saya silih bertukar meremas payudaranya yang terkadang saya isap puting susunya berganti-gantian. "Sstssrtt.. Sudah.. Ndi.. Kelu.. Arin.. Samaan.. Sst.." pinta Grace yang ternyata tidak tahan pada sodokan kontol saya yang keluar masuk semakin cepat disertai juga dengan cepatnya goyangan pinggul Grace. "I.. Ya.. Grace.. Sst.." desis saya lirih sebab saya dengan kuat diputar-diputar oleh pinggul Grace yang kencang itu sampai kontol saya rasa-rasanya senut-senut diapit oleh vaginanya. Beberapa puluh menit saya serta Grace lakukan making love itu dengan semangat sampai kepala Grace melihat ke kiri-ke kanan tidak teratur. Ternyata pertahanan saya akan jebol serta pada akhirnya saya memberikan aba-aba pada Grace dibarengi dengan pelukan Grace yang semakin kencang. "Sst.. Mari.. Grace.. Sst.." "Ssrtrrsst.. Arkhkk.." jerit Grace melengking sekalian menjepit kontol saya dengan erat, dibarengi sodokan kontolku yang semakin cepat serta pada akhirnya.. Crot.. croot.. croot.. 3x shooting saya muntahkan dalam vaginanya tetapi masih di kondom. Grace pada akhirnya lunglai sekalian memeluk saya dengan hangat. "Hahh.. Lega rasa-rasanya.." "Bagaimana rasa-rasanya Grace?" bertanya saya sekalian membelai rambutnya yang harum itu. "Enak edan" jawabnya sekalian tersenyum. Semasa 2 hari, semenjak insiden itu saya seringkali lakukan making love dengan Grace, serta seringkali Grace yang mengawali terlebih dulu. Pada akhirnya di hari paling akhir saya mengantarkan Grace ke lapangan terbang Selaparang. Hari masih pagi kurang lebih jam 05.25 , sebab pesawatnya akan pergi jam 07.00. Kemungkinan Grace masih ingin sharing pada saya tentang banyak hal. "Wah, masih sepi ya.." "Iya Grace, baru kita saja yang tiba, tetapi tidak apalah, kita khan dapat bercakap" jawab saya enjoy. "Iya, ya" Pagi itu Grace kenakan hem yang baru dibelinya serta dipadukan dengan rok jins mini kegemarannya yang berwarna putih.
Sesudah mengobrol seputar lima belas menit, Grace keliatannya resah serta ajak saya ke toilet wanita. "Saya nantikan di sini ya" "Sudah mari masuk, mumpung tidak ada orang" pinta Grace sekalian menggandeng tangan saya masuk dalam toilet wanita itu. Lalu kami masuk dalam kamar mandi di sudut yang kosong. Edan Grace, kelak saat u ada yang mengetahui bagaimana, pikirku. Belum saya memikir panjang, Grace telah melepas celana dalamnya yang berwarna merah serta menggerakkan saya duduk di atas toilet kekinian itu. "Eh.. Grace.. Bagaimana kalau ada orang nich" jawab saya bingung, tetapi pada akhirnya saya terlepas celana jins dan CD saya sampai sang boy muncul dengan tegaknya. "Sst.. Sudah diam saja kamu" jawab Grace sekalian meremas kontol saya sampai tegak prima. "Tetapi belum pakai kondom nich" "Tidak perlu, Grace ingin yang orisinal, mari.." pintanya sekalian arahkan kontol saya pada vaginanya. Saya membantunya dengan menggenggam pantatnya sampai masuk semua kontol saya pada vaginanya. Tempat saya yang duduk memangku Grace serta Grace bertemu dengan saya menyebabkan desakan vaginanya semakin berasa. "Sst.. Ndi.. Mari.. Cepetan.. Sst.." "Iya.." jawab saya sekalian secara cepat menyodokkan kontol keluar masuk vaginanya. Untung saja pagi itu belum ramai oleh penumpang serta toilet itu belumlah ada yang menghampirinya sampai Grace serta saya dapat making love dengan nikmat yang bersatu dengan perasaan berdebar-debar. "Sst.. Sayang.. Cepet.. Ssrrtt.." rintih Grace sekalian menggoyang pinggulnya dengan liar. "Sst.. Mmhmm.. Ssrttss.." desisnya. "Grace.. Sst.." desis saya lirih sekalian tangan saya melepas kancing hemnya serta masuk ke BH-nya dan meremas payudaranya dengan perlahan, serta kadang- terkadang saya cium bibirnya yang merah basah dengan gemas, yang dibalasnya dengan ciuman yang liar . "Ssrtss.. Ssttrtss.." rintih Grace perlahan sekalian percepat goyangan pinggulnya. Serta pada akhirnya pekerjaan yang berjalan kira-kira 40 menit itu saya mengakhiri dengan percepat sodokan kontol saya secara cepat sampai pada akhirnya muncratlah lahar putih saya dalam vaginanya dengan keras tanpa ada penghambat kondom.
"Sst.. Arkhkk.." jerit Grace sekalian memeluk saya dengan erat sebab bertepatan dengan keluarnya lahar putih saya, keluar lahar putih dari Grace. Sampai sesaat saya serta Grace masih nikmati sensasi itu dengan berciuman lembut. "Trim's ya Ndi.." "Sama- sama Grace, kapan- kapan bermain-main ke Lombok lagi ya" jawab saya sekalian membereskan celana serta pakaian, begitupun dengan Grace yang mengubah celana dalamnya yang berwarna hijau lumut. Sesudah rapi, saya serta Grace keluar toilet untuk mengobrol lagi menanti pesawat yang belum juga pergi . Sesaat selanjutnya baru Grace pergi ke Jakarta dengan bawa serta tinggalkan sejuta masa lalu. Selamat jalan Grace